Kamis, Desember 7

Seputar Badal Umrah

Share

Badal umrah yaitu menggantikan atau mewakilkan pelaksanaan ibadah umrah untuk orang lain. Ini juga berlaku untuk ibadah haji, dengan disebut badal haji.

Badal umrah atau haji bisa Anda lakukan untuk orang yang sudah meninggal, atau orang yang masih hidup namun tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah umrah atau haji sendiri ke Baitullah. 

Anda boleh menggantikan atau mewakilkan ibadah umrah untuk orang yang sudah meninggal (baik orang tua, anggota keluarga lain, atau kerabat). Atau, bisa juga untuk orang yang masih hidup namun sudah tua dan sakit-sakitan sehingga sudah tidak mampu melaksanakan ibadah umrah.

Badal umrah atau haji ini hanya boleh dilakukan oleh satu orang saja. Umrah hukumnya tidak wajib, begitu juga dengan badalnya. Namun, badal umrah akan menjadi wajib jika seseorang sudah bernadzar untuk umroh tapi ia tidak bisa melaksanakannya karena faktor tertentu (meninggal/sudah renta, penyakit, atau hal lain yang membuatnya sudah tidak mampu lagi).

Tentunya, badal umrah atau haji berbeda dalam pelaksanaannya. 

Dikutip dari rumaysho, dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah juz ke-30, hlm. 328-329 dalam pembahasan umrah untuk yang lain disebutkan bahwa:

Para fuqaha (ahli fiqih) secara umum membolehkan menunaikan umrah untuk yang lain karena umrah sama halnya dengan haji boleh ada badal di dalamnya. Karena haji dan umrah sama-sama ibadah badan dan harta. Namun ada beberapa pendapat lain dari ulama besar mengenai rincian dan persyaratannya. 

Dalam hal perizinannya, terdapat beberapa pendapat ulama yang berbeda, seperti dikutip dari rumaysho berikut ini.

  1. Ulama Hanafiyah

Boleh menunaikan umrah dari yang lain atas perintahnya (orang yang ingin dibadalkan). Karena, menggantikan umrah hanya boleh lewat jalan perintah. Kalau ada perintah, lantas dibadalkanlah umrah tersebut, maka boleh (melakukan hal yang diperintahkan).

  1. Ulama Malikiyah

Menyatakan dimakruhkan mengganti umrah. Namun jika terjadi, tetap dihukumi sah.

  1. Ulama Syafi’iyah

Berpendapat boleh ada badal atau menggantikan menunaikan umrah dari yang lain, jika yang digantikan adalah mayit atau orang yang masih hidup namun tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikannya sendiri.

Siapa saja yang sudah dibebani melakukan umrah yang wajib dan punya kemampuan saat itu, namun tidak melakukkannya sampai meninggal dunia, maka wajib menunaikan umrah tersebut oleh orang lain dari harta peninggalan si mayit. Orang lain pun yang tidak ada punya hubungan kerabat, jika menunaikan umrah tersebut tetap dianggap sah walau tanpa izinnya. Sebagaimana tetap sah jika ada yang melunasi utang walau tanpa izinnya.

  1. Ulama Syafi’iyah

Boleh juga menunaikan umrah yang Sunnah, jika yang digantikan tidak mampu menunaikan sendiri sebagaimana boleh juga menunaikannya untuk mayit.

  1. Ulama Hambali

Tidak boleh mengumrahkan orang yang masih hidup kecuali dengan izinnya. Memang umrah bisa digantikan, namun butuh izin dari orang yang digantikan. Adapun mayit boleh diumrahkan meskipun tidak dengan izinnya.

Para ulama masih menganggap berdasarkan dalil dari badal haji, bahwa badal umrah tetap ada. Namun ada perincian yang berbeda dari pendapat ulama madzhab.

Konsultasikan prosedur badal umrah Anda kepada ahli agama yang Anda percayai atau tim ahli ada di Aqobah Travel.

Simak informasi seputar haji, umrah, Arab Saudi, muslim, dan lainnya hanya di blog Aqobah. Untuk paket perjalanan haji, umrah, dan wisata silakan cek Instagram @aqobah.travel

#umrah #badalumrah


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *